Sabtu, 21 Maret 2015

Cerpen - Teman Bicara Sephia

prankkk.... “ suara perabotan yang pecah beberapa kali terdengar dari rumah kecil itu beradu dengan suara derasnya air hujan. Kali ini lebih keras sehingga tetangga yang sedari tadi mencuri-curi dengar berkumpul didepan rumah sumber suara gaduh tersebut. Ada yang membawa payung, adapula yang membiarkan badanya basah terguyur hujan, hanya untuk melihat peristiwa itu “brakkk.... pergi kamu anak haram, kamu adalah kesalahan di dunia ini. Jangan pernah muncul dihadapanku !!! arghh.....” pintu yang terbuat dari kayu lapis yang sudah keropos itu ambrukk, diatasnya tersimpuh gadis muda dengan luka memar di pelipis kanannya. Ia mencoba bangun dari puing-puing pintu yang rusak karena terkena tubuhnya ketika didorong ibunya dengan kuat.
“uhukkkkkk....” gadis muda memuntahkan cairan merah pekat dari mulutnya. Tanganya gemetaran memandangi muntahan darah yang ada di tangannya.
“astaghfirullahaladzim, nyebut Kha.  Dia anakmu” pak somad tetangga sebelah gadis kecil  itu mencoba membangunkan Sephia si gadis kecil yang kini tergeletak lemah di atas reruntuhan pintu. Dia menangis  dan mengusap kedua pipi Shepia dengan penuh kasih sayang.
“tidak !!! dia bukan anakku, tidak ada yang menginginkannya di dunia ini. Bubar kalian semua, ini bukan tontonan. Dan tidak ada yang mengizinkan kalian memasuki halaman rumahku. Bubarrr !!!!” teriak Fatikha ibu Sephia histeris
Para tetangga segera berbalik, diiringi bisik-bisik. Agaknya mereka bahagia kerena mendapat bahan obrolan untuk seminggu ini. Dan mereka bahagia karena mereka melihat secara langsung kejadian yang pada tahun sebelum-sebelumnya hanya gosip semata.
“kamu juga minggat !!!” teriak ibunya Shepia setengah menjerit
Shepia tertunduk lemas, kakinya terlalu lemas. Mungkin dia tidak akan bisa berjalan jika tak dipapah pak somad. “kita kerumah paklik saja, minum teh hangat ya nduk”  shepia melepaskan papahanya dari pak somad dan ia berlari sekuat sisa tenaganya yang terkuras karena menaggung besarnya beban mental yang harus ia pikul. Ia tak memakai alas kaki, hanya dengan memakai kaos oblong putih yang kebesaran di badanya yang mungil bertuliskan salah satu merk sabun di punggungnya dan kolor berwarna coklat pekat, ia menerjang hujan. Agaknya ia menangis tapi air hujan berhasil menyamarkan tangisanya. Pak somad hendak berlari menyusulnya, namun hati nuraninya berkata untuk membiarkan sephia sendiri dan menemukan ketenangan dalam dirinya sendiri.
            hiks... hiks sephia terisak dalam tangisnya. Hujan memang mulai reda tapi tidak dengan hujan dihatinya yang saat ini sedang kebingungan, mencari tahu siapa dia sebenarnya. Ia meringkuk di bawah pohon nangka, sambil sesekali memandangi indahnya danau Toba. Hatinya benar-benar kalut. Sebenarnya ia ingin sekali membenci ibunya, ia ingin sekali pergi dari rumah dan tidak akan kembali lagi, bahkan ia ingin sekali mati. Tapi sayang cintanya kepada ibunya membuat ia tak bisa melakukan itu, cinta yang terbentuk dari ikatan darah antara  dia dan ibunya. Cinta yang terbentuk dari kerasnya perlakuan ibunya kepadanya.
“siapa namamu adik kecil ?” tanya seseorang yang memakai kemeja warna biru langit menghampirinya sambil menyodorkan tangan kanannya. Sephia mendongakan kepalanya. Ia terkesima pada senyum lelaki itu, senyum yang selalu ia rindukan dari sosok ayahnya, tepatnya ayah tirinya yang selalu merawatnya dengan tulus sebelum ia tewas  dibunuh ayah kandungnya.
“kenapa kamu disini, apa kamu butuh tempat tinggal ?” tanya lelaki itu lagi dengan lembut. Sephia menggeleng, selama hampir 2 tahun ini ia sangat jarang bicara, saking jarang bicaranya ada gosip yang beredar kalu dia mendadak jadi bisu karena disiksa ibunya, ia tidak pergi sekolah dan tidak pergi bermain bersama teman-temannya. Ia merasa tiba-tiba temanya menjauhinya dan menganggapnya aneh.
“kenapa adik kecil ? sebaiknya kamu lekas mandi dan ganti baju, lihat kulit tangan dan kakimu! lihat warna bibirmu ! kalau kau masih tetap disini kau akan sakit” kata lelaki itu lagi, ia tampak sabar menghadapi Sephia.
“aku benci mama”  kata sephia dengan suara parau
“apa? Kenapa kamu bisa membenci mamamu, apakah mama mu jahat sama kamu?”
Sephia menggeleng pelan, sebenarnya ia ingin menyalahkan semua sikap ibunya kepadanya tapi meski ia baru berumur 12 tahun ia mengerti kalau beban mental yang diterima ibunya lebih berat daripada beban mental yang ia terima. Semua berawal sejak 2 tahun yang lalu, tepatnya saat Sephia masih berumur 10 tahun. Ia terjatuh dari atap rumahnya ketika hendak mengambil layangan. Darah segar mengucur dari ubun-ubunya hingga memenuhi wajahnya. Orang-orang berlarian kearahnya dengan diliputi perasaan panik.
“Anak ini tak bernafas” kata pak somad setelah ia meletakan tanganya di hidung Sephia.
“Coba dengar detak jantungnya !” teriak seseorang, pak somad segera meletakan telinganya di dada Sephia.
“tunggu apalagi panggil orangtua nya, bawa ke rumah sakit!!” kata pak somad lantang
“untuk apa memanggil orangtua nya, ibu anak ini sudah ada di belakang mu” kata seseorang sambil menunjuk bu Fatikha yang sedari tadi berdiri dibelakang pak somad.
Bu Fatikha segera berbalik, sambil menengok kebelakang ia berkata “ biarkan anak itu mati” orang-orang ternganga mendengar pernyataanya, bisik-bisik riuh segera terdengar setelah pernyataanya itu. Banyak pula yang memiringkan jari telunjuknya di depan dahi mereka sambil memandangi bu Fatikha yang pergi berlalu.
“Astaghfirullahaladzim, Phipi” tampak seorang lelaki menyibak kerumunan tersebut.
Dia adalah Pak Manan ayah Sephia. Ia segera membopong tubuh mungil Sephia, sehingga darah segar yang masih terus mengucur dari ubun-ubunya membasahi baju kerja ayahnya.
“Pak Somad tolong anak saya” kata pak Manan dengan wajah memelas.
“naik tossa saya pak?” kata pak somad kebingungan
“apapun, yang penting Phipi bisa segera sampai di rumah sakit dengan selamat”
“ya sudahlah, hei bantu saya menurunkan galon-galon air mineral itu dari Tossa saya !” himbau pak manan kepada warga sekitar. Beberapa menit kemudian tossa telah siap dan Sephia segera diangkut ke Tossa. Pak Manan mendekap Sephia dengan penuh rasa Cemas “bertahanlah sebentar lagi sayang”
            Suasana di sekitar ruang IGD itu begitu senyap, detak jam dinding terasa begitu keras dan menambah kecemasan orang yang duduk di bangku berwarna abu-abu yang terletak didepan ruangan tersebut, kreetttt.... seseorang dengan jubah warna hijau pupus dan masker di lehernya keluar dari ruangan tersebut.
“bagaimana keadaan anak saya dok ?” tanya pak manan cemas
“sepertinya anak bapak kekurangan darah, kami sudah hubungi PMI sayang sekali stok darahnya habis, jadi saya minta keluarga yang golongan darahnya sama, apakah bersedia untuk mendonorkan darahnya untuk dia”
“tentu saya bersedia, golongan darahnya B kan dok ?”
“Maaf golongan darah anak bapak A pak ?” kata dokter itu mantap
“Mustahil dok golongan darah saya dan Istri saya B semua dok. mungkin dokter salah periksa. Mohon diperiksa dengan teliti dok, ini menyangkut masalah anak saya”
“kami sudah sangat teliti pak, lebih baik tidak usah diperdebatkan dulu masalah ini. Yang paling penting anak bapak maksimal 2 jam lagi sudah mendapat transfusi darah”
Pak Manan kebingungan, Tiba-tiba saja ia merasa dikhianati, hatinya merasa kosong. Tapi karena rasa cinta dan sayangnya kepada Sephia,  dia memutuskan untuk bergerak cepat. Agar nyawa anaknya bisa terselamatkan.
            Tok tok tok “assalamualaikum bu, bukakan pintunya” kata pak manan terburu-buru
“waalaikum salam pak, iya sebentar”
“Bu Sephia butuh transfusi golongan darah A secepatnya”
Bu Fatikha terdiam, tiba-tiba ia bersimpuh dikaki suaminya, ia menangis sesenggukan
“Kenapa bu? Kenapa ibu menangis?” kata pak Manan mencoba tabah
“Maafin ibu pak, maafin ibu, seharusnya ibu tidak melakukan itu. Ibu berdosa pak, ibu berdosa” kata bu Fatikha sambil tersengal-sengal karena sambil menangis
“kenapa bu ? apa karena sebenarnya ibu berbohong kepada bapak kalau sephia itu ternyata bukan anak kita?” Pak manan berkata lirih, tampak bening setetes air di pelupuk matanya dan hampir jatuh membasahi pipinya.
Bu Fatikha menangis histeris, Pak Manan kini paham mengapa Istrinya tidak begitu menyukai Shepia dan kadang bertingkah seperti orang gila semenjak melahirkan Sephia.
“apakah sebenarnya anak dulatip bu?” kata pak manan terbata-bata
Bu Fatikha mengangguk pelan. Pak manan kaget melihat pengakuan istrinya. Kakinya lemas. Ia tak bisa berdiri lagi dan tersimpuh di depan istrinya yang dari tadi menangis di Lututnya. Ia memeluk Istrinya “maaf bu, maaf kalau bapak begitu ingin mempunyai anak. Maaf kalau bapak membawa ibu berobat ke dukun yang ternyata kelakuanya bejat seperti itu. Maaf bapak benar-benar minta maaf” kata pak Manan sambil mengsap-usap kepala Istrinya.
“yang terpenting sekarang adalah keselamatan phipi, ia butuh transfusi darah. Mungkin golongan darah ayah kandungnya cocok dengan golongan darah Sephia”
“jangan pak, jangan kerumah dulatip. Dia mengancam akan menyantet kita jika kita membongkar boroknya”
“tidak, aku tidak akan membongkar boroknya. Aku hanya meminta agar dia mau menolong anaknya yang sedang sekarat”
“tapi pak, aku takut bapak kenapa-napa”
“tidak ibu tenang saja, doakan bapak dari rumah”
            Tok tok tok tok “Assalamualaikum, tip dulatip ini aku Manan” teriak pak Manan dengan terburu-buru. Kreetttt  pintu yang didepanya terdapat papan besar bertuliskan Pengobatan Alternatif iu terbuka, dibaliknya ada wanita berumur 60 tahunan yang bermake up tebal untuk menutupi wajahnya yang menua. Ia menatap pak Manan dengan tajam.
“ada apa ya?” tanya wanita tua yang tak lain adalah Istri Dulatip itu dengan ketus.
“ehmmm anu bu, mau konsultasi sebentar sama bapak” jawab pak Manan singkat
“Oh silahkan masuk dan duduk, tunggu sebentar saya panggilkan” kata wanita itu tetap dengan nada yang ketus
Tidak beberapa lama Dulatip yang berpakaian serba hitam dan rambut gondrong disemir merah itu datang menghampiri pak Manan dengan penuh rasa Curiga.
“Tolong anak saya, dia butuh transfusi darah secepatnya” kata pak manan tanpa basa-basi
“kenapa harus saya, kalau saya tidak mau bagaimana?” kata Dulatip dengan wajah agak ketakutan
“Tolonglah, anak saya bisa sekarat kalu tidak cepat2 mendapatkan transfusi darah”
“anak kamu yang sekarat, kenapa mesti saya yang Repot” balas Dulatip seenaknya, membuat emosi pak manan tersulut
“Anakku juga Anakmu, kamu itu binatang apa manusia sama anakmu sendiri tak perduli apapun”
“Diam kamu  ! kalau sampai istriku tahu, kubunuh kau. Aku hanya tinggal beberapa tahun lagi untuk menunggu istriku mati dan aku bisa menguasai hartanya”
Prankkkk dua gelas cangkir porselen lengkap dengan nampannya jatuh di kaki Dulatip dan Manan yang sedang bicara di Sofa ruang tamu.
“Kita Cerai” kata Istri Dulatip yang kelihatanya amat murka terhadap suaminya, Dulatip segera mengejar Istrinya yang lari ke dapur. Sementara pak manan tetap duduk diam dengan wajah pesimis. Tiba-tiba handphone pak manan berdering, ia segera mengangakatnya “Halo pak manan, alhamdulillah Darah untuk Sephia sudah ada”
“Alhamdulillah, kalau begitu lekas ditransfusi darahnya agar anak saya bisa lekas diselamatkan” jawab pak manan dengan penuh rasa syukur. Baru saja pak Manan selesai menutup telephone, tiba-tiba punggungnya terasa ngilu. Dan sekujur tubuhnya mendadak merasa panas. Tapi ia memutuskan untuk menahan rasa sakitnya dan lekas pergi kerumah sakit untuk menemani Sephia ia merasa kalau hari ini adalah saat terakhir dia bertemu anak kesayanganya. Shepia telah siuman begitu pak manan sampai di rumah sakit. Sephia memandangi pak manan dengan tatapan ngeri, Pak manan datang dengan kondisi kulit yang keabu-abuan dan  melepuh disana-sini. “ayah kenapa ayah? Kenapa kulit ayah jadi melepuh seperti ini?”
“Phipi sayang, mau kan janji sesuatu sama ayah?” kata pak manan sambil memandang wajah anaknya dalam-dalam
“apa yah? Ayah mau aku janji supaya tidak main keatas genteng lagi?” tanya Shepia polos, pak manan tersenyum kecil. Tanpa terasa air matanya menentes.
“ehm ayah mau  kamu jagain mama kalau ayah lagi pergi?”
“emang ayah mau pergi kemana? Phipi  ikut yah. Lagian phipi juga masih kecil yah, belum bisa kalau disuruh jagain mama”
“kalau begitu cobalah untuk jadi teman bicara yang baik untuk mama”
“Pasti ayah aku akan melakukan sebisaku, karena aku cinta mama dan ayah”
“terimakasih phipi sayang, ayah mau tidur disini ya?” Shepia mengangguk, ia  mengelus kepala ayahnya yang tertidur tanpa tahu kalau sebenarnya ayahnya akan tidur selamanya.
Pemakaman pak manan berlangsung lancar kala itu, bisik-bisik tetangga yang melayat mengatakan kalau pak manan kena santet dari  Dulatip. Bu fatikha tentu mendengar gosip itu dan satu-satunya orang yang ia salahkan tapi benar-benar tak bisa salahkan adalah Sephia anak kandungnya sendiri. Sejak itulah bu Fatikha agak sedikit terguncang mentalnya, dan ia suka menjerit histeris serta melempar dengan keras perabotan di rumahnya.
            Hujan gerimis telah reda Sephia pulang ke rumahnya dengan gontai, ibunya yang sedari tadi menunggu di depan pintu langsung berkata dengan keras “Kamu? Sudah saya bilangin jangan temui saya ngerti nggak sih?” Sephia celingak-celinguk kebingungan. Dengan spontan dia berlari cepat menuju ke arah ibunya dan bersimpuh di kakinya “ma izinkan aku menepati janjiku kepada ayah, aku hanya sekadar ingin menjadi teman bicaramu mama” kata sephia memelas
“Dia bukan ayahmu, ayahmu seorang bajingan”
“Bagiku Ayah Manan adalah ayah terbaik dalam hidupku ma” kata Sephia
Bu fatikha amat murka mendengar pernyataan Shepia ia menendang sephia hingga tersungkur di tanah.
“Kurang ajar kamu” belum culup setelah menendangnya bu fatikha hendak memukul Sephia dengan sapu didekat pintu ia berdiri. Sephia lari menyebrangi jalan raya di seberang rumahnya. Ibunya mengejar dengan terburu-buru “Awas ma !!!” Sephia berteriak histeris.Bu Fatikha terserempet mini bus yang melintas. Lukanya cukup parah, bahkan ia terancam buta. Beberapa hari kemuadian bu fatikha sadar setelah menjalani operasi tranplatasi mata.
“dok mengapa mata saya diperban” tanya bu fatikha sesaat setelah siuman.
“Tadi ibu hampir saja terancam buta, untung saja anak ibu Korneanya cocok dengan ibu, sehingga ibu bisa melihat lagi nantinya”
“Sephia???”
“Iya Sephia, siapa lagi”
Bu fatikha terharu ia ingin menangis namun matanya masih terasa sakit untuk menangis.
“Antarkan saya ke anak saya dok”
“disini disebelah ibu” kata dokter sambil menuntun bu fatikha ke ranjang disampingnya.
“Sephia kenapa kamu melakunkanya” kata bu fatikha
“Karena aku ingin menjadi teman bicara mama, karena aku ingin menepati janjiku terhadap ayah”
“Bodoh, lihatlah dririmu sekarang. Bagaimana bisa kamu jadi teman bicara mama kalau kamu buta”
“saat ini dan seterusnya mungkin aku memang buta ma, tapi aku bersyukur aku sudah pernah melihat wajah ayah dan ibu. Sehingga aku masih bisa melihat wajah kalian setiap malam dalam mimpi-mimpiku, dan aku bersyukur aku buta karena cinta kalian berdua. Cinta kalian berdua yang membutakan mata fisikku. Tapi cinta kalian berdualah yang membuka mata hatiku sejak aku masih kecil”
“kamu bukan manusia nak, kamu malaikat. Terimakasih sudah hadir dalam kehidupan ayah dan mama” kata bu Fatikha diiringi isak tangis keduanya
“Jadi mama mau kan jadi teman bicaraku?”
“Pasti nak, pastI”

Biodata penulis: lahir di sebuah tempat nan damai bernama Kabupaten Pekalongan pada 29 November 1996 dengan nama Asa Fiqhia, saat ini sedang menjalani program pendidikan S1 Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Diponegoro. Untuk informasi lebih lanjut boleh kepoin aku dengan cara Follow twitter (@asafiqhia). Aku tidak suka hal-hal yang rumit, tapi aku suka hal yang baru dan penuh tantangan.
Dan mereka berpelukan, itulah awal dimana bu Fatikha merasakan bahagianya memiliki seorang anak. Dan awal bahagianya Sephia merasakan hangatnya pelukan penuh kasih sayang dari seorang ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar