“prankkk.... “
suara perabotan yang pecah beberapa kali terdengar dari rumah kecil itu
beradu dengan suara derasnya air hujan. Kali ini lebih keras sehingga tetangga
yang sedari tadi mencuri-curi dengar berkumpul didepan rumah sumber suara gaduh
tersebut. Ada yang membawa payung, adapula yang membiarkan badanya basah
terguyur hujan, hanya untuk melihat peristiwa itu “brakkk.... pergi kamu anak haram, kamu adalah kesalahan di dunia
ini. Jangan pernah muncul dihadapanku !!! arghh.....” pintu yang terbuat dari
kayu lapis yang sudah keropos itu ambrukk, diatasnya tersimpuh gadis muda
dengan luka memar di pelipis kanannya. Ia mencoba bangun dari puing-puing pintu
yang rusak karena terkena tubuhnya ketika didorong ibunya dengan kuat.
“uhukkkkkk....” gadis muda memuntahkan cairan merah
pekat dari mulutnya. Tanganya gemetaran memandangi muntahan darah yang ada di
tangannya.
“astaghfirullahaladzim, nyebut Kha. Dia anakmu” pak somad tetangga sebelah gadis
kecil itu mencoba membangunkan Sephia si
gadis kecil yang kini tergeletak lemah di atas reruntuhan pintu. Dia
menangis dan mengusap kedua pipi Shepia
dengan penuh kasih sayang.
“tidak !!! dia bukan anakku, tidak ada yang
menginginkannya di dunia ini. Bubar kalian semua, ini bukan tontonan. Dan tidak
ada yang mengizinkan kalian memasuki halaman rumahku. Bubarrr !!!!” teriak
Fatikha ibu Sephia histeris
Para tetangga segera berbalik, diiringi bisik-bisik.
Agaknya mereka bahagia kerena mendapat bahan obrolan untuk seminggu ini. Dan
mereka bahagia karena mereka melihat secara langsung kejadian yang pada tahun
sebelum-sebelumnya hanya gosip semata.
“kamu juga minggat !!!” teriak ibunya Shepia
setengah menjerit
Shepia tertunduk lemas, kakinya terlalu lemas.
Mungkin dia tidak akan bisa berjalan jika tak dipapah pak somad. “kita kerumah
paklik saja, minum teh hangat ya nduk”
shepia melepaskan papahanya dari pak somad dan ia berlari sekuat sisa
tenaganya yang terkuras karena menaggung besarnya beban mental yang harus ia
pikul. Ia tak memakai alas kaki, hanya dengan memakai kaos oblong putih yang
kebesaran di badanya yang mungil bertuliskan salah satu merk sabun di
punggungnya dan kolor berwarna coklat pekat, ia menerjang hujan. Agaknya ia
menangis tapi air hujan berhasil menyamarkan tangisanya. Pak somad hendak
berlari menyusulnya, namun hati nuraninya berkata untuk membiarkan sephia
sendiri dan menemukan ketenangan dalam dirinya sendiri.
hiks... hiks sephia terisak dalam
tangisnya. Hujan memang mulai reda tapi tidak dengan hujan dihatinya yang saat
ini sedang kebingungan, mencari tahu siapa dia sebenarnya. Ia meringkuk di
bawah pohon nangka, sambil sesekali memandangi indahnya danau Toba. Hatinya
benar-benar kalut. Sebenarnya ia ingin sekali membenci ibunya, ia ingin sekali
pergi dari rumah dan tidak akan kembali lagi, bahkan ia ingin sekali mati. Tapi
sayang cintanya kepada ibunya membuat ia tak bisa melakukan itu, cinta yang
terbentuk dari ikatan darah antara dia
dan ibunya. Cinta yang terbentuk dari kerasnya perlakuan ibunya kepadanya.
“siapa namamu adik kecil ?” tanya seseorang yang
memakai kemeja warna biru langit menghampirinya sambil menyodorkan tangan
kanannya. Sephia mendongakan kepalanya. Ia terkesima pada senyum lelaki itu,
senyum yang selalu ia rindukan dari sosok ayahnya, tepatnya ayah tirinya yang
selalu merawatnya dengan tulus sebelum ia tewas
dibunuh ayah kandungnya.
“kenapa kamu disini, apa kamu butuh tempat tinggal
?” tanya lelaki itu lagi dengan lembut. Sephia menggeleng, selama hampir 2
tahun ini ia sangat jarang bicara, saking jarang bicaranya ada gosip yang
beredar kalu dia mendadak jadi bisu karena disiksa ibunya, ia tidak pergi
sekolah dan tidak pergi bermain bersama teman-temannya. Ia merasa tiba-tiba
temanya menjauhinya dan menganggapnya aneh.
“kenapa adik kecil ? sebaiknya kamu lekas mandi dan
ganti baju, lihat kulit tangan dan kakimu! lihat warna bibirmu ! kalau kau
masih tetap disini kau akan sakit” kata lelaki itu lagi, ia tampak sabar
menghadapi Sephia.
“aku benci mama”
kata sephia dengan suara parau
“apa? Kenapa kamu bisa membenci mamamu, apakah mama
mu jahat sama kamu?”
Sephia menggeleng pelan, sebenarnya ia ingin
menyalahkan semua sikap ibunya kepadanya tapi meski ia baru berumur 12 tahun ia
mengerti kalau beban mental yang diterima ibunya lebih berat daripada beban
mental yang ia terima. Semua berawal sejak 2 tahun yang lalu, tepatnya saat
Sephia masih berumur 10 tahun. Ia terjatuh dari atap rumahnya ketika hendak
mengambil layangan. Darah segar mengucur dari ubun-ubunya hingga memenuhi
wajahnya. Orang-orang berlarian kearahnya dengan diliputi perasaan panik.
“Anak ini tak bernafas” kata pak somad setelah ia
meletakan tanganya di hidung Sephia.
“Coba dengar detak jantungnya !” teriak seseorang,
pak somad segera meletakan telinganya di dada Sephia.
“tunggu apalagi panggil orangtua nya, bawa ke rumah
sakit!!” kata pak somad lantang
“untuk apa memanggil orangtua nya, ibu anak ini
sudah ada di belakang mu” kata seseorang sambil menunjuk bu Fatikha yang sedari
tadi berdiri dibelakang pak somad.
Bu Fatikha segera berbalik, sambil menengok
kebelakang ia berkata “ biarkan anak itu mati” orang-orang ternganga mendengar
pernyataanya, bisik-bisik riuh segera terdengar setelah pernyataanya itu.
Banyak pula yang memiringkan jari telunjuknya di depan dahi mereka sambil
memandangi bu Fatikha yang pergi berlalu.
“Astaghfirullahaladzim, Phipi” tampak seorang lelaki
menyibak kerumunan tersebut.
Dia adalah Pak Manan ayah Sephia. Ia segera
membopong tubuh mungil Sephia, sehingga darah segar yang masih terus mengucur
dari ubun-ubunya membasahi baju kerja ayahnya.
“Pak Somad tolong anak saya” kata pak Manan dengan
wajah memelas.
“naik tossa saya pak?” kata pak somad kebingungan
“apapun, yang penting Phipi bisa segera sampai di
rumah sakit dengan selamat”
“ya sudahlah, hei bantu saya menurunkan galon-galon
air mineral itu dari Tossa saya !” himbau pak manan kepada warga sekitar.
Beberapa menit kemudian tossa telah siap dan Sephia segera diangkut ke Tossa.
Pak Manan mendekap Sephia dengan penuh rasa Cemas “bertahanlah sebentar lagi
sayang”
Suasana
di sekitar ruang IGD itu begitu senyap, detak jam dinding terasa begitu keras
dan menambah kecemasan orang yang duduk di bangku berwarna abu-abu yang
terletak didepan ruangan tersebut, kreetttt....
seseorang dengan jubah warna hijau pupus dan masker di lehernya keluar dari
ruangan tersebut.
“bagaimana keadaan anak saya dok ?” tanya pak manan
cemas
“sepertinya anak bapak kekurangan darah, kami sudah
hubungi PMI sayang sekali stok darahnya habis, jadi saya minta keluarga yang
golongan darahnya sama, apakah bersedia untuk mendonorkan darahnya untuk dia”
“tentu saya bersedia, golongan darahnya B kan dok ?”
“Maaf golongan darah anak bapak A pak ?” kata dokter
itu mantap
“Mustahil dok golongan darah saya dan Istri saya B
semua dok. mungkin dokter salah periksa. Mohon diperiksa dengan teliti dok, ini
menyangkut masalah anak saya”
“kami sudah sangat teliti pak, lebih baik tidak usah
diperdebatkan dulu masalah ini. Yang paling penting anak bapak maksimal 2 jam
lagi sudah mendapat transfusi darah”
Pak Manan kebingungan, Tiba-tiba saja ia merasa
dikhianati, hatinya merasa kosong. Tapi karena rasa cinta dan sayangnya kepada
Sephia, dia memutuskan untuk bergerak
cepat. Agar nyawa anaknya bisa terselamatkan.
Tok tok tok “assalamualaikum bu, bukakan
pintunya” kata pak manan terburu-buru
“waalaikum salam pak, iya sebentar”
“Bu Sephia butuh transfusi golongan darah A
secepatnya”
Bu Fatikha terdiam, tiba-tiba ia bersimpuh dikaki
suaminya, ia menangis sesenggukan
“Kenapa bu? Kenapa ibu menangis?” kata pak Manan
mencoba tabah
“Maafin ibu pak, maafin ibu, seharusnya ibu tidak
melakukan itu. Ibu berdosa pak, ibu berdosa” kata bu Fatikha sambil
tersengal-sengal karena sambil menangis
“kenapa bu ? apa karena sebenarnya ibu berbohong
kepada bapak kalau sephia itu ternyata bukan anak kita?” Pak manan berkata
lirih, tampak bening setetes air di pelupuk matanya dan hampir jatuh membasahi
pipinya.
Bu Fatikha menangis histeris, Pak Manan kini paham
mengapa Istrinya tidak begitu menyukai Shepia dan kadang bertingkah seperti
orang gila semenjak melahirkan Sephia.
“apakah sebenarnya anak dulatip bu?” kata pak manan
terbata-bata
Bu Fatikha mengangguk pelan. Pak manan kaget melihat
pengakuan istrinya. Kakinya lemas. Ia tak bisa berdiri lagi dan tersimpuh di
depan istrinya yang dari tadi menangis di Lututnya. Ia memeluk Istrinya “maaf
bu, maaf kalau bapak begitu ingin mempunyai anak. Maaf kalau bapak membawa ibu
berobat ke dukun yang ternyata kelakuanya bejat seperti itu. Maaf bapak
benar-benar minta maaf” kata pak Manan sambil mengsap-usap kepala Istrinya.
“yang terpenting sekarang adalah keselamatan phipi,
ia butuh transfusi darah. Mungkin golongan darah ayah kandungnya cocok dengan
golongan darah Sephia”
“jangan pak, jangan kerumah dulatip. Dia mengancam
akan menyantet kita jika kita membongkar boroknya”
“tidak, aku tidak akan membongkar boroknya. Aku
hanya meminta agar dia mau menolong anaknya yang sedang sekarat”
“tapi pak, aku takut bapak kenapa-napa”
“tidak ibu tenang saja, doakan bapak dari rumah”
Tok tok tok tok “Assalamualaikum, tip
dulatip ini aku Manan” teriak pak Manan dengan terburu-buru. Kreetttt pintu yang didepanya terdapat papan besar
bertuliskan Pengobatan Alternatif iu terbuka, dibaliknya ada wanita berumur 60
tahunan yang bermake up tebal untuk menutupi wajahnya yang menua. Ia menatap
pak Manan dengan tajam.
“ada apa ya?” tanya wanita tua yang tak lain adalah
Istri Dulatip itu dengan ketus.
“ehmmm anu bu, mau konsultasi sebentar sama bapak”
jawab pak Manan singkat
“Oh silahkan masuk dan duduk, tunggu sebentar saya
panggilkan” kata wanita itu tetap dengan nada yang ketus
Tidak beberapa lama Dulatip yang berpakaian serba
hitam dan rambut gondrong disemir merah itu datang menghampiri pak Manan dengan
penuh rasa Curiga.
“Tolong anak saya, dia butuh transfusi darah
secepatnya” kata pak manan tanpa basa-basi
“kenapa harus saya, kalau saya tidak mau bagaimana?”
kata Dulatip dengan wajah agak ketakutan
“Tolonglah, anak saya bisa sekarat kalu tidak cepat2
mendapatkan transfusi darah”
“anak kamu yang sekarat, kenapa mesti saya yang Repot”
balas Dulatip seenaknya, membuat emosi pak manan tersulut
“Anakku juga Anakmu, kamu itu binatang apa manusia
sama anakmu sendiri tak perduli apapun”
“Diam kamu !
kalau sampai istriku tahu, kubunuh kau. Aku hanya tinggal beberapa tahun lagi
untuk menunggu istriku mati dan aku bisa menguasai hartanya”
Prankkkk
dua
gelas cangkir porselen lengkap dengan nampannya jatuh di kaki Dulatip dan Manan
yang sedang bicara di Sofa ruang tamu.
“Kita Cerai” kata Istri Dulatip yang kelihatanya
amat murka terhadap suaminya, Dulatip segera mengejar Istrinya yang lari ke
dapur. Sementara pak manan tetap duduk diam dengan wajah pesimis. Tiba-tiba
handphone pak manan berdering, ia segera mengangakatnya “Halo pak manan,
alhamdulillah Darah untuk Sephia sudah ada”
“Alhamdulillah, kalau begitu lekas ditransfusi
darahnya agar anak saya bisa lekas diselamatkan” jawab pak manan dengan penuh
rasa syukur. Baru saja pak Manan selesai menutup telephone, tiba-tiba
punggungnya terasa ngilu. Dan sekujur tubuhnya mendadak merasa panas. Tapi ia
memutuskan untuk menahan rasa sakitnya dan lekas pergi kerumah sakit untuk
menemani Sephia ia merasa kalau hari ini adalah saat terakhir dia bertemu anak
kesayanganya. Shepia telah siuman begitu pak manan sampai di rumah sakit.
Sephia memandangi pak manan dengan tatapan ngeri, Pak manan datang dengan
kondisi kulit yang keabu-abuan dan
melepuh disana-sini. “ayah kenapa ayah? Kenapa kulit ayah jadi melepuh
seperti ini?”
“Phipi sayang, mau kan janji sesuatu sama ayah?”
kata pak manan sambil memandang wajah anaknya dalam-dalam
“apa yah? Ayah mau aku janji supaya tidak main
keatas genteng lagi?” tanya Shepia polos, pak manan tersenyum kecil. Tanpa
terasa air matanya menentes.
“ehm ayah mau
kamu jagain mama kalau ayah lagi pergi?”
“emang ayah mau pergi kemana? Phipi ikut yah. Lagian phipi juga masih kecil yah,
belum bisa kalau disuruh jagain mama”
“kalau begitu cobalah untuk jadi teman bicara yang
baik untuk mama”
“Pasti ayah aku akan melakukan sebisaku, karena aku
cinta mama dan ayah”
“terimakasih phipi sayang, ayah mau tidur disini
ya?” Shepia mengangguk, ia mengelus
kepala ayahnya yang tertidur tanpa tahu kalau sebenarnya ayahnya akan tidur
selamanya.
Pemakaman pak manan berlangsung lancar kala itu,
bisik-bisik tetangga yang melayat mengatakan kalau pak manan kena santet
dari Dulatip. Bu fatikha tentu mendengar
gosip itu dan satu-satunya orang yang ia salahkan tapi benar-benar tak bisa
salahkan adalah Sephia anak kandungnya sendiri. Sejak itulah bu Fatikha agak
sedikit terguncang mentalnya, dan ia suka menjerit histeris serta melempar
dengan keras perabotan di rumahnya.
Hujan
gerimis telah reda Sephia pulang ke rumahnya dengan gontai, ibunya yang sedari
tadi menunggu di depan pintu langsung berkata dengan keras “Kamu? Sudah saya
bilangin jangan temui saya ngerti nggak sih?” Sephia celingak-celinguk
kebingungan. Dengan spontan dia berlari cepat menuju ke arah ibunya dan
bersimpuh di kakinya “ma izinkan aku menepati janjiku kepada ayah, aku hanya
sekadar ingin menjadi teman bicaramu mama” kata sephia memelas
“Dia bukan ayahmu, ayahmu seorang bajingan”
“Bagiku Ayah Manan adalah ayah terbaik dalam hidupku
ma” kata Sephia
Bu fatikha amat murka mendengar pernyataan Shepia ia
menendang sephia hingga tersungkur di tanah.
“Kurang ajar kamu” belum culup setelah menendangnya
bu fatikha hendak memukul Sephia dengan sapu didekat pintu ia berdiri. Sephia
lari menyebrangi jalan raya di seberang rumahnya. Ibunya mengejar dengan
terburu-buru “Awas ma !!!” Sephia berteriak histeris.Bu Fatikha terserempet
mini bus yang melintas. Lukanya cukup parah, bahkan ia terancam buta. Beberapa
hari kemuadian bu fatikha sadar setelah menjalani operasi tranplatasi mata.
“dok mengapa mata saya diperban” tanya bu fatikha
sesaat setelah siuman.
“Tadi ibu hampir saja terancam buta, untung saja
anak ibu Korneanya cocok dengan ibu, sehingga ibu bisa melihat lagi nantinya”
“Sephia???”
“Iya Sephia, siapa lagi”
Bu fatikha terharu ia ingin menangis namun matanya
masih terasa sakit untuk menangis.
“Antarkan saya ke anak saya dok”
“disini disebelah ibu” kata dokter sambil menuntun
bu fatikha ke ranjang disampingnya.
“Sephia kenapa kamu melakunkanya” kata bu fatikha
“Karena aku ingin menjadi teman bicara mama, karena
aku ingin menepati janjiku terhadap ayah”
“Bodoh, lihatlah dririmu sekarang. Bagaimana bisa
kamu jadi teman bicara mama kalau kamu buta”
“saat ini dan seterusnya mungkin aku memang buta ma,
tapi aku bersyukur aku sudah pernah melihat wajah ayah dan ibu. Sehingga aku
masih bisa melihat wajah kalian setiap malam dalam mimpi-mimpiku, dan aku
bersyukur aku buta karena cinta kalian berdua. Cinta kalian berdua yang
membutakan mata fisikku. Tapi cinta kalian berdualah yang membuka mata hatiku
sejak aku masih kecil”
“kamu bukan manusia nak, kamu malaikat. Terimakasih
sudah hadir dalam kehidupan ayah dan mama” kata bu Fatikha diiringi isak tangis
keduanya
“Jadi mama mau kan jadi teman bicaraku?”
“Pasti nak, pastI”
Biodata penulis:
lahir di sebuah tempat nan damai bernama Kabupaten Pekalongan pada 29
November 1996 dengan nama Asa Fiqhia, saat ini sedang menjalani program
pendidikan S1 Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas
Diponegoro. Untuk informasi lebih lanjut boleh kepoin aku dengan cara
Follow twitter (@asafiqhia). Aku tidak suka hal-hal yang rumit, tapi aku
suka hal yang baru dan penuh tantangan.
|
Dan
mereka berpelukan, itulah awal dimana bu Fatikha merasakan bahagianya memiliki
seorang anak. Dan awal bahagianya Sephia merasakan hangatnya pelukan penuh
kasih sayang dari seorang ibu.